Essay
PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN RISET
Oleh :
TIARA PERMATA CHANDRA (11613190)

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Selayang pandang :
NAbi Muhammad S.A.W bersabda: “Didiklah anak-anak kamu, sesungguhnya mereka di ciptakan untuk zamannya dan bukan untuk zaman kamu”
Dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan dapat membantu kita menemukan jalan bagaimana kita harus mengorientasikan tingkah laku kita. Al-qur’an juga memerintahkan kepada kita untuk berikhtiar menuju pada kehidupan yang lebih produktif dan progresif. Sebab, kehidupan membutuhkan dinamika dan juga kreativitas, kebebasan berkehendak(free will) bagi manusia, hal tersebut dibenarkan oleh AL-Qur’an dan AL-Hadist Nabi Muhammad s.a.w, dan orang yang bermalas-malasan dalam mengarungi bahtera kehidupan dilaranng oleh agama (islam).
Pada 2 Mei 2012 yang lalu , tepat sudah kita bangsa Indonesia memperinghati hari pendidkan yang ke 53 tahun . Sudah setengah abad lebih , lantas apa saja perkembangan pendidikan di Indonesia dari 53 tahun silam ? Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia ?
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Diantara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke -102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survey dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Kemajuan suatu bangsa tidak hanya di ukur dari segi ekonomi,politik,sosial dan budaya . Pendidikan juga merupakan aspek terpenting untuk suatu negara dikatakan maju atau tidak . Tentunya ini tidak lepas dari peranan dari segala sarana prasana pendidikan , terlebih lagi Perguruan tinggi dan riset yang bermutu. Melalui perguruan tinggi yang berkualitas akan dihasilkan sarjana, peneliti, dan akademisi yang mumpuni. Mereka ini diharapkan akan menyumbangkan ilmunya dan hasil-hasil risetnya untuk ikut membangun kemajuan teknologi, pengetahuan dan kebudayaan bangsa.
Jika berbicara mengenai riset dan jurnal internasional , posisi Indonesia sangat mengkhawatirkan . Karena riset dan jurnal Indonesia masih minim sekali untuk “digaungkan” di dunia internasional. Padahal Indonesia mempunyai objek yang cukup banyak untuk prasarana riset .
Lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication s k i l l . kekurangan salah satu dari keempat keterampilan/kemahiran tersebut dapat menyebabkan berkurangnya mutu lulusan. Sinergisme akan tercermin melalui kemampuan lulusan dalam kecepatan menemukan solusi atas persoalan-persoalan atau tantangan-tantangan yang dihadapinya. Perilaku dan pemikiran yang ditunjukkan akan bersifat konstruktif realistik, artinya kreatif (unik dan bermanfaat) serta dapat diwujudkan. Kemampuan berpikir dan bertindak kreatif pada hakekatnya dapat dilakukan setiap manusia apalagi yang menikmati pendidikan tinggi. Oleh karena, kreativitas merupakan jelmaan integratif 3 (tiga) faktor utama dalam diri manusia, yaitu: pikiran, perasaan dan keterampilan. Dalam faktor pikiran terdapat imajinasi, pesepsi dan nalar. Faktor perasaan terdiri dari emosi, estetika dan harmonisasi. Sedangkan faktor keterampilan mengandung bakat, faal tubuh dan pengalaman. Dengan demikian, agar mahasiswa dapat mencapai level kreatif, ketiga faktor termaksud diupayakan agar optimal dalam sebuah kegiatan yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
PKM merupakan salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DITLITABMAS) Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan\akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan,mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yaitu PKM.
PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk meng-implementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni Pada awalnya, dikenal 5 (lima) jenis kegiatan yang ditawarkan dalam PKM, yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Ilmiah (PKM-I). Sejak Januari 2009, DITLITABMAS mengelola 6 (enam) PKM. Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) yang semula menjadi tugas Direktorat Akademik dalam pengelolaannya, dilimpahkan kepada DITLITABMAS. Karena sifatnya yang identik dengan PKM-I, KKTM selanjutnya dikelola bersama-sama PKM-I dalam PKM-Karya Tulis (PKM-KT). Dengan demikian, di dalam PKM-KT terkandung 2 (dua) program penulisan, yaitu: PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT). PKM-I atau selanjutnya disebut PKM-AI yang merupakan artikel hasil kegiatan, tidak lagi ditampilkan dalam PIMNAS, namun dimuarakan pada e-journal. Sedangkan PKM-GT yang berpeluang didiskusikan dalam forum terbuka, diposisikan sebagai pengganti PKM-AI di PIMNAS. Namun sejak tahun 2011, jumlah bidang PKM bertambah menjadi 7 (tujuh) dengan terbitnya bidang PKM-KARSACIPTA.
Pada umumnya setiap universitas mempunyai Program Kreativitas Mahasiswa tersendiri dengan masih berpedoman pada pedoman umum yang telah ditetapkan oleh Dikti. Di Universitas Islam Indonesia pun juga mempunyai PKM , salah satunya adalah Program Kreatifitas Mahasiswa Farmasi atau lebih akrab dikenal dengan sebutan PKMF UII .
Berawal dari keinginan untuk menciptakan kondisi akademik yang berbau riset serta pengembangan minat, kreativitas dan inovasi mahasiswa terhadap penelitian, Prodi Farmasi UII melalui program kerja Laboratorium Farmasi mulai menggulirkan program Penelitian Mahasiswa Farmasi (PMF) sejak tahun 2004 silam. Kegiatan tahunan yang berupa kompetisi internal antarmahasisa farmasi UII ini, menawarkan dana hibah yang tidak sedikit kepada pemenangnya. Besaran hibah yang diperebutkan pun diusahakan meningkat dari ke tahun, dengan mempertimbangkan arah dan judul penelitian yang akan didanai. Diharapkan luaran dari kegiatan ini dapat menghasilkan karya tulis yang dapat dipublikasikan dan meningkatnya keikutsertaan mahasiswa farmasi pada ajang sejenis ditingkat yang lebih tinggi, semisal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh Dikti.
Hingga tahun ini tercatat sudah 37 usulan proposal dari peserta PKMF UII yang didanai oleh Dikti .
PKMF ini sudah menjadi program tahunan di prodi Farmasi UII . PKMF ini “berbau” penelitian tentunya sangat tepat sekali untuk mahasiswa farmasi . Farmasis sangat dituntut untuk bisa menemukan dan mengembangkan obat-obat baru , tentunya ini butuh riset terlebih dahulu . Dengan kaya rayanya Indonesia akan berbagai jenis tumbuhan , ini tentunya sangat membantu farmasis dalam menemukan riset riset baru pastinya.
Allah SWT membentangkan langit bumi hanyalah untuk kepentingan hidup makhluknya . Alam pun juga butuh pengoptimalan agar bisa menghasilkan yang optimal pula . Melalui riset kita dapat menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar kita .
Adapun “output” yang diharapakan dari PKMF ini adalah munculnya proposal dengan ide-ide kreatif yang dapat dipertanggung jawabkan serta lahirnya para peneliti-peneliti kompeten dari para farmasis , dan tentunya sasaran dari PKMF ini adalah seluruh mahasiswa farmasi UII .
Lantas bagaimana peran PKMF itu sendiri sebagai wahana dalam pendidikan riset ?
Dengan mengikuti PKMF secara otomatis kita terlibat didalam dunia penelitian ilmiah yang nantinya kan mengantarkan kita ke riset yang lebih tinggi lagi . Dengan mengadakan penelitian maka kita akan menemukan sesuatu riset yang baru . Namun saat ini , belakangan PKMF tidaklah lagi menjadi wahana pendidikan riset dikarenakan kurangnya minat pemuda masa kini dibidang baca tulis.
Harus diakui bahwa budaya membaca dan menulis masih menjadi masalah mendasar di perguruan tinggi. Apalagi budaya meneliti yang mungkin baru digeluti saat mendekati akhir studi. Kemampuan menulis dan meneliti sebenarnya bisa diintegasikan dalam proses perkuliahan. Toh, meneliti itu tidak harus dalam skala besar. Saat kita menyimak dengan seksama tentang apa yang ada atau terjadi di lingkungan, topik atau bahan riset pun bermunculan. Semoga proses perkuliahan bisa merangsang mahasiswa untuk peka terhadap berbagai masalah di masyarakat. Lebih jauh lagi, berusaha untuk mencari solusinya melalui berbagai program kreativitas mahasiswa.
Jika upaya itupun kurang berhasil, jangan-jangan, benar pula yang dikatakan oleh Prof Masrukhi tentang “Inilah Lima Wajah Mahasiswa Indonesia, seperti diberitakan oleh Kompas.com (28/9/2011). Lima wajah tersebut adalah idealis-konfrontatif, idealis-realistis, oportunis, professional, dan rekreatif. “Prof. Masrukhi menilai, saat ini banyak mahasiswa yang lebih berorientasi pada gaya hidup“. Apakah memang kondisinya seperti itu? Masa mahasiswa datang ke kampus cuma untuk bergaya saja. Rasanya, masih ada mahasiswa yang benar-benar belajar dan berkeinginan untuk meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan tinggi. Memang tersisa satu pertanyaan: Seberapa banyak yang seperti itu?
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah bangsa tidak akan maju jika kualitas pendidikannya masih rendah. Perguruan tinggi mempunyai peranan yang besar akan hal ini , yaitu melalui riset-riset atau penelitian para lulusannya . Dikarenakan sangat pentingnya pendidikan itu , maka DIKTI pun membuat program Pusat Kreatifitas Mahasiswa yang mana ini menjadi ajang kompetisi para ilmuwan-ilmuwan muda untuk menunjukkan kreatifitas mereka .
Dengan adanya Program Kreatifitas Mahasiswa diharapakan dapat menimbulkan minat dan kemauan para mahasiswa untuk melakukan berbagai riset yang “beretika” serta bertanggung jawab .
PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA
SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN RISET
Oleh :
TIARA PERMATA CHANDRA (11613190)
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Selayang pandang :
NAbi Muhammad S.A.W bersabda: “Didiklah anak-anak kamu, sesungguhnya mereka di ciptakan untuk zamannya dan bukan untuk zaman kamu”
Dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan dapat membantu kita menemukan jalan bagaimana kita harus mengorientasikan tingkah laku kita. Al-qur’an juga memerintahkan kepada kita untuk berikhtiar menuju pada kehidupan yang lebih produktif dan progresif. Sebab, kehidupan membutuhkan dinamika dan juga kreativitas, kebebasan berkehendak(free will) bagi manusia, hal tersebut dibenarkan oleh AL-Qur’an dan AL-Hadist Nabi Muhammad s.a.w, dan orang yang bermalas-malasan dalam mengarungi bahtera kehidupan dilaranng oleh agama (islam).
Pada 2 Mei 2012 yang lalu , tepat sudah kita bangsa Indonesia memperinghati hari pendidkan yang ke 53 tahun . Sudah setengah abad lebih , lantas apa saja perkembangan pendidikan di Indonesia dari 53 tahun silam ? Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia ?
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Diantara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke -102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survey dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Kemajuan suatu bangsa tidak hanya di ukur dari segi ekonomi,politik,sosial dan budaya . Pendidikan juga merupakan aspek terpenting untuk suatu negara dikatakan maju atau tidak . Tentunya ini tidak lepas dari peranan dari segala sarana prasana pendidikan , terlebih lagi Perguruan tinggi dan riset yang bermutu. Melalui perguruan tinggi yang berkualitas akan dihasilkan sarjana, peneliti, dan akademisi yang mumpuni. Mereka ini diharapkan akan menyumbangkan ilmunya dan hasil-hasil risetnya untuk ikut membangun kemajuan teknologi, pengetahuan dan kebudayaan bangsa.
Jika berbicara mengenai riset dan jurnal internasional , posisi Indonesia sangat mengkhawatirkan . Karena riset dan jurnal Indonesia masih minim sekali untuk “digaungkan” di dunia internasional. Padahal Indonesia mempunyai objek yang cukup banyak untuk prasarana riset .
Lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill dan communication s k i l l . kekurangan salah satu dari keempat keterampilan/kemahiran tersebut dapat menyebabkan berkurangnya mutu lulusan. Sinergisme akan tercermin melalui kemampuan lulusan dalam kecepatan menemukan solusi atas persoalan-persoalan atau tantangan-tantangan yang dihadapinya. Perilaku dan pemikiran yang ditunjukkan akan bersifat konstruktif realistik, artinya kreatif (unik dan bermanfaat) serta dapat diwujudkan. Kemampuan berpikir dan bertindak kreatif pada hakekatnya dapat dilakukan setiap manusia apalagi yang menikmati pendidikan tinggi. Oleh karena, kreativitas merupakan jelmaan integratif 3 (tiga) faktor utama dalam diri manusia, yaitu: pikiran, perasaan dan keterampilan. Dalam faktor pikiran terdapat imajinasi, pesepsi dan nalar. Faktor perasaan terdiri dari emosi, estetika dan harmonisasi. Sedangkan faktor keterampilan mengandung bakat, faal tubuh dan pengalaman. Dengan demikian, agar mahasiswa dapat mencapai level kreatif, ketiga faktor termaksud diupayakan agar optimal dalam sebuah kegiatan yang diberi nama Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
PKM merupakan salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DITLITABMAS) Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan\akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan,mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yaitu PKM.
PKM dikembangkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang tinggi. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan serta berjiwa mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk meng-implementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni Pada awalnya, dikenal 5 (lima) jenis kegiatan yang ditawarkan dalam PKM, yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Ilmiah (PKM-I). Sejak Januari 2009, DITLITABMAS mengelola 6 (enam) PKM. Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) yang semula menjadi tugas Direktorat Akademik dalam pengelolaannya, dilimpahkan kepada DITLITABMAS. Karena sifatnya yang identik dengan PKM-I, KKTM selanjutnya dikelola bersama-sama PKM-I dalam PKM-Karya Tulis (PKM-KT). Dengan demikian, di dalam PKM-KT terkandung 2 (dua) program penulisan, yaitu: PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT). PKM-I atau selanjutnya disebut PKM-AI yang merupakan artikel hasil kegiatan, tidak lagi ditampilkan dalam PIMNAS, namun dimuarakan pada e-journal. Sedangkan PKM-GT yang berpeluang didiskusikan dalam forum terbuka, diposisikan sebagai pengganti PKM-AI di PIMNAS. Namun sejak tahun 2011, jumlah bidang PKM bertambah menjadi 7 (tujuh) dengan terbitnya bidang PKM-KARSACIPTA.
Pada umumnya setiap universitas mempunyai Program Kreativitas Mahasiswa tersendiri dengan masih berpedoman pada pedoman umum yang telah ditetapkan oleh Dikti. Di Universitas Islam Indonesia pun juga mempunyai PKM , salah satunya adalah Program Kreatifitas Mahasiswa Farmasi atau lebih akrab dikenal dengan sebutan PKMF UII .
Berawal dari keinginan untuk menciptakan kondisi akademik yang berbau riset serta pengembangan minat, kreativitas dan inovasi mahasiswa terhadap penelitian, Prodi Farmasi UII melalui program kerja Laboratorium Farmasi mulai menggulirkan program Penelitian Mahasiswa Farmasi (PMF) sejak tahun 2004 silam. Kegiatan tahunan yang berupa kompetisi internal antarmahasisa farmasi UII ini, menawarkan dana hibah yang tidak sedikit kepada pemenangnya. Besaran hibah yang diperebutkan pun diusahakan meningkat dari ke tahun, dengan mempertimbangkan arah dan judul penelitian yang akan didanai. Diharapkan luaran dari kegiatan ini dapat menghasilkan karya tulis yang dapat dipublikasikan dan meningkatnya keikutsertaan mahasiswa farmasi pada ajang sejenis ditingkat yang lebih tinggi, semisal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh Dikti.
Hingga tahun ini tercatat sudah 37 usulan proposal dari peserta PKMF UII yang didanai oleh Dikti .
PKMF ini sudah menjadi program tahunan di prodi Farmasi UII . PKMF ini “berbau” penelitian tentunya sangat tepat sekali untuk mahasiswa farmasi . Farmasis sangat dituntut untuk bisa menemukan dan mengembangkan obat-obat baru , tentunya ini butuh riset terlebih dahulu . Dengan kaya rayanya Indonesia akan berbagai jenis tumbuhan , ini tentunya sangat membantu farmasis dalam menemukan riset riset baru pastinya.
Allah SWT membentangkan langit bumi hanyalah untuk kepentingan hidup makhluknya . Alam pun juga butuh pengoptimalan agar bisa menghasilkan yang optimal pula . Melalui riset kita dapat menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar kita .
Adapun “output” yang diharapakan dari PKMF ini adalah munculnya proposal dengan ide-ide kreatif yang dapat dipertanggung jawabkan serta lahirnya para peneliti-peneliti kompeten dari para farmasis , dan tentunya sasaran dari PKMF ini adalah seluruh mahasiswa farmasi UII .
Lantas bagaimana peran PKMF itu sendiri sebagai wahana dalam pendidikan riset ?
Dengan mengikuti PKMF secara otomatis kita terlibat didalam dunia penelitian ilmiah yang nantinya kan mengantarkan kita ke riset yang lebih tinggi lagi . Dengan mengadakan penelitian maka kita akan menemukan sesuatu riset yang baru . Namun saat ini , belakangan PKMF tidaklah lagi menjadi wahana pendidikan riset dikarenakan kurangnya minat pemuda masa kini dibidang baca tulis.
Harus diakui bahwa budaya membaca dan menulis masih menjadi masalah mendasar di perguruan tinggi. Apalagi budaya meneliti yang mungkin baru digeluti saat mendekati akhir studi. Kemampuan menulis dan meneliti sebenarnya bisa diintegasikan dalam proses perkuliahan. Toh, meneliti itu tidak harus dalam skala besar. Saat kita menyimak dengan seksama tentang apa yang ada atau terjadi di lingkungan, topik atau bahan riset pun bermunculan. Semoga proses perkuliahan bisa merangsang mahasiswa untuk peka terhadap berbagai masalah di masyarakat. Lebih jauh lagi, berusaha untuk mencari solusinya melalui berbagai program kreativitas mahasiswa.
Jika upaya itupun kurang berhasil, jangan-jangan, benar pula yang dikatakan oleh Prof Masrukhi tentang “Inilah Lima Wajah Mahasiswa Indonesia, seperti diberitakan oleh Kompas.com (28/9/2011). Lima wajah tersebut adalah idealis-konfrontatif, idealis-realistis, oportunis, professional, dan rekreatif. “Prof. Masrukhi menilai, saat ini banyak mahasiswa yang lebih berorientasi pada gaya hidup“. Apakah memang kondisinya seperti itu? Masa mahasiswa datang ke kampus cuma untuk bergaya saja. Rasanya, masih ada mahasiswa yang benar-benar belajar dan berkeinginan untuk meningkatkan kemampuannya melalui pendidikan tinggi. Memang tersisa satu pertanyaan: Seberapa banyak yang seperti itu?
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah bangsa tidak akan maju jika kualitas pendidikannya masih rendah. Perguruan tinggi mempunyai peranan yang besar akan hal ini , yaitu melalui riset-riset atau penelitian para lulusannya . Dikarenakan sangat pentingnya pendidikan itu , maka DIKTI pun membuat program Pusat Kreatifitas Mahasiswa yang mana ini menjadi ajang kompetisi para ilmuwan-ilmuwan muda untuk menunjukkan kreatifitas mereka .
Dengan adanya Program Kreatifitas Mahasiswa diharapakan dapat menimbulkan minat dan kemauan para mahasiswa untuk melakukan berbagai riset yang “beretika” serta bertanggung jawab .